Membangun Peradaban dari Dalam Rumah
Bismillahirrahmanirrahim…
Wooww….NWH kali ini membuat saya
berasa kembali ke masa beberapa tahun silam, masa awal mengenal rasa merah
jambu…hahay..
A.
Jatuh Cinta Kembali Pada Suami
Surat cinta ini, membuka kembali
ingatan saat kami berta’aruf. Kami salah satu dari sekian banyak pasangan yang
menjalankan proses pacaran setelah menikah. Saya sampaikan kembali pada suami,
apa yang dulu membuat hati saya bulat menerimanya sebagai imam dalam kehidupan
saya. saya bukanlah tipe yang pandai merangkai kata-kata romantis penuh gerimis
puitis. Namun Alhamdulillah jawaban dari surat cinta sederhana saya adalah, suami mengajak mengagendakan waktu untuk perjalanan bagi kami berdua berbulan
madu (Horeee…yesss…#jejingkrak kegirangan).
B.
Mengenali Potensi dan Mensiasati
Kelemahan Ananda
Alhamdulillah kami dikaruniai dua
orang putri.
1. Annisa khumairah (6,5 tahun)
Sangat menyukai dunia menggambar dan
mewarnai, Alhamdulillah beberapa kali
menjadi juara pada lomba kategori tersebut. Memiliki ketertarikan yang kuat
pada matematika dan logika. Memiliki empati yang besar pada orang-orang
disekitarnya. Menyukai kegiatan memasak serta mulai menampakkan minat pada
entrepreneur. Menyukai traveling. Tidak terlalu mudah membaur pada lingkuan
baru, namun bila sudah kenal dengan teman-temannya, ia termasuk yang
kehadirannya selalu dinantikan oleh teman-temannya. Masih banyak bagian yang
menjadi PR saya dan suami, diantaranya mengasah rasa percaya diri Annisa. Ibarat
mesin, maka Annisa adalah mesin Diesel yang butuh waktu untuk panas namun
kemudian insya Allah mampu ‘berlari’ lebih lama.
2. Nabila Zhafira (3 tahun)
Sejauh ini Alhamdulillah tumbuh
kembangnya cukup baik. Mandiri dan pemberani dua hal ini yang sangat menonjol
dari Zhafira. Sangat suka menyanyi dan juga kegiatan membaca buku dan berkisah. Saya dan suami
masih terus belajar memberikan stimulus untuk menggali dan memunculkan semua fitrah pada diri anak-anak
kami.
C.
Potensi Diri bagi Keluarga
Menurut suami, saya memiliki empati
yang besar pada orang disekitar saya. saya juga menyukai dunia pendidikan. Setelah
membaca salah tulisan bu Septi, saya terprovokasi untuk ikut mencoba hal-hal
yang selama ini menurut saya tidak mampu saya lakukan. Hasilnya sungguh mengejutkan
saya. Ternyata saya jatuh hati dan menikmati dunia menjahit, memasak dan
menulis. Berdagang adalah potensi yang diyakini suami ada pada diri saya namun
sayangnya saya sendiri tidak yakin memilikinya heheee…inilah yang sedang coba
saya gali. Dengan potensi yang ada pada diri, saya berusaha bersinergi bersama
suami untuk mewujudkan keluarga yang bermanfaat bagi sekitar.
D.
Keluarga ditengah Lingkuangan
Kami berdomisili di perumahan dengan
tetangga yang majemuk. Di depan rumah kami terdapat taman RT yang dilengkapi
dengan beberapa media bermain anak-anak. Setiap sore taman dipenuhi oleh
anak-anak yang bermain selepas mengaji di TPA. Saya, suami dan anak-anak
sepakat menambah fasilitas bermain ditaman dengan membuka rumah baca di rumah
kami. Saat ini sedang dalam tahap pengadaan buku bacaan. Itu salah satu target
jangka pendek kami menebar manfaat dilingkungan saat ini.
Dari hasil diskusi panjang bersama
suami, kami bertekad menjadi keluarga yang dapat member manfaat bagi sesama.
Berbekal latar belakang pendidikan yang sama yaitu sama-sama bergerak di dunia
pendidikan, saya dan suami bercita-cita membangun sebuah wadah belajar bagi
anak-anak. Dengan meniru metode yang di gunakan oleh Rasulullah untuk mendidik
para sahabat hingga lahirlah generasi muda tangguh semisal Muhammad Al-Fatih.
Saat ini saya dan suami sedang terus belajar dari berbagai sumber agar kelak
kami mampu mewujudkan cita-cita keluarga kami, aamiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar