Jumat, 04 November 2016

MEMBANGUN PERADABAN DARI DALAM RUMAH #NHW3

Membangun Peradaban dari Dalam Rumah


Bismillahirrahmanirrahim…
Wooww….NWH kali ini membuat saya berasa kembali ke masa beberapa tahun silam, masa awal mengenal rasa merah jambu…hahay..

A.     Jatuh Cinta Kembali Pada Suami
Surat cinta ini, membuka kembali ingatan saat kami berta’aruf. Kami salah satu dari sekian banyak pasangan yang menjalankan proses pacaran setelah menikah. Saya sampaikan kembali pada suami, apa yang dulu membuat hati saya bulat menerimanya sebagai imam dalam kehidupan saya. saya bukanlah tipe yang pandai merangkai kata-kata romantis penuh gerimis puitis. Namun Alhamdulillah jawaban dari surat cinta sederhana saya adalah, suami mengajak mengagendakan waktu untuk perjalanan bagi kami berdua berbulan madu (Horeee…yesss…#jejingkrak kegirangan).

B.      Mengenali Potensi dan Mensiasati Kelemahan Ananda
Alhamdulillah kami dikaruniai dua orang putri.
1.      Annisa khumairah (6,5 tahun)
Sangat menyukai dunia menggambar dan mewarnai,  Alhamdulillah beberapa kali menjadi juara pada lomba kategori tersebut. Memiliki ketertarikan yang kuat pada matematika dan logika. Memiliki empati yang besar pada orang-orang disekitarnya. Menyukai kegiatan memasak serta mulai menampakkan minat pada entrepreneur. Menyukai traveling. Tidak terlalu mudah membaur pada lingkuan baru, namun bila sudah kenal dengan teman-temannya, ia termasuk yang kehadirannya selalu dinantikan oleh teman-temannya. Masih banyak bagian yang menjadi PR saya dan suami, diantaranya mengasah rasa percaya diri Annisa. Ibarat mesin, maka Annisa adalah mesin Diesel yang butuh waktu untuk panas namun kemudian insya Allah mampu ‘berlari’ lebih lama.

2.      Nabila Zhafira (3 tahun)
Sejauh ini Alhamdulillah tumbuh kembangnya cukup baik. Mandiri dan pemberani dua hal ini yang sangat menonjol dari Zhafira. Sangat suka menyanyi dan juga kegiatan  membaca buku dan berkisah. Saya dan suami masih terus belajar memberikan stimulus untuk menggali dan  memunculkan semua fitrah pada diri anak-anak kami.

C.      Potensi Diri bagi Keluarga
Menurut suami, saya memiliki empati yang besar pada orang disekitar saya. saya juga menyukai dunia pendidikan. Setelah membaca salah tulisan bu Septi, saya terprovokasi untuk ikut mencoba hal-hal yang selama ini menurut saya tidak mampu saya lakukan. Hasilnya sungguh mengejutkan saya. Ternyata saya jatuh hati dan menikmati dunia menjahit, memasak dan menulis. Berdagang adalah potensi yang diyakini suami ada pada diri saya namun sayangnya saya sendiri tidak yakin memilikinya heheee…inilah yang sedang coba saya gali. Dengan potensi yang ada pada diri, saya berusaha bersinergi bersama suami untuk mewujudkan keluarga yang bermanfaat bagi sekitar.

D.     Keluarga ditengah Lingkuangan
Kami berdomisili di perumahan dengan tetangga yang majemuk. Di depan rumah kami terdapat taman RT yang dilengkapi dengan beberapa media bermain anak-anak. Setiap sore taman dipenuhi oleh anak-anak yang bermain selepas mengaji di TPA. Saya, suami dan anak-anak sepakat menambah fasilitas bermain ditaman dengan membuka rumah baca di rumah kami. Saat ini sedang dalam tahap pengadaan buku bacaan. Itu salah satu target jangka pendek kami menebar manfaat dilingkungan saat ini.
Dari hasil diskusi panjang bersama suami, kami bertekad menjadi keluarga yang dapat member manfaat bagi sesama. Berbekal latar belakang pendidikan yang sama yaitu sama-sama bergerak di dunia pendidikan, saya dan suami bercita-cita membangun sebuah wadah belajar bagi anak-anak. Dengan meniru metode yang di gunakan oleh Rasulullah untuk mendidik para sahabat hingga lahirlah generasi muda tangguh semisal Muhammad Al-Fatih. Saat ini saya dan suami sedang terus belajar dari berbagai sumber agar kelak kami mampu mewujudkan cita-cita keluarga kami, aamiin.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar