Sabtu, 18 Februari 2017

Aliran Rasa 1 #Komunikasi Produktif #Bunda Sayang #IIP

Berlimpah syukur saya pada Allah yang telah mempertemukan saya dengan komunitas Ibu Profesional-nya ibu Septi. Begitu banyak Hal baik yang saya pelajari di komunitas ini, dan saat ini saya tengah menuntut ilmu pada kelas Bunda Sayang.

Mempelajari Komunikasi Produktif betul-betul membuat saya tertegun-tegun. Duh, betapa banyak kesalahan yang saya lakukan selama ini, dan saya harus segera berubah. Lalu muncullah pertanyaan dari mana saya harus memulai perubahan ini? 

Saya belajar melongok dan berdialog dengan diri sendiri, dan menemukan bahwa ternyata saya harus memperbaiki cara berkomunikasi dengan diri sendiri terlebih dahulu. Mengapa harus mulai dari sini? jawabannya adalah  karena:
1. Kosakata kita adalah output dari struktur dan cara kita berpikir.
2. Pemilihan diksi (kosa kata) adalah cerminan diri kita yang sesungguhnya.

Selanjutnya, saya harus memperbaiki komunikasi dengan pasangan. Untuk itu saya terlebih dahulu harus  membangun kesadaran bahwa saya dan suami adalah dua individu yang berbada, dan saya coba pahami dan terima hal itu. Meskipun dengan terseok-seok, saya belajar menerapkan kaidah yang dapat membantu meningkatkan efektivitas dan produktivitas komunikasi dengan pasangan. Kaidah itu adalah:
1. Clear and Clarify
2. Choose the Right Time
3. kaidah 7 - 38 - 55
4. Intensity of Eye Contact
5. I'm responsible for my communication result

Berikutnya, saya harus memperbaiki cara saya berkomunikasi dengan anak-anak. Sungguh ini adalah PR terbesar saya. Kenyataan bahwa anak-anak mungkin tidak memahami perkataan saya, tapi mereka tidak pernah salah meng-copy, membuat saya tertunduk dalam.
Kenyataan lain, bahwa saya sebagai orang tua pernah menjadi anak-anak, tapi anak-anak saya belum pernah menjadi orang tua seperti saya, maka sudah seharusnyalah saya yang merubah cara komunikasi saya terhadap anak-anak. Maka saya coba memperbaikinya dari tahap:
1. Keep Information Shoort & Simple (KISS)
2. Mengendalikan intonasi suara dan menggunakan suara ramah
3. Mengatakan apa yang saya inginkan, bukan yang tidak saya inginkan 
4. Fokus ke depan, bukan masa lalu
5. Mengganti kata tidak bisa menjadi bisa
6. Fokus pada solusi bukan pada masalah
7. Jelas dalam memberikan pujian dan kritikan
8. Mengganti nasihat menjadi refleksi pengalaman
9. Mengganti kalimat interogasi dengan pernyataan observasi
10. Mengganti kalimat yang menolak/mengalihkan perasaan dengan kalimat yang menunjukkan empati.
11. Mengganti kalimat perintah dengan kalimat pilihan

Terima kasih bu Septi.
Sungguh, saya harus belajar banyak dan banyak-banyak belajar.
Bismillah, saya luruskan kembali niat untuk berubah agar saya menjadi pribadi, istri dan ibu yang lebih baik. Ya Allah...bimbinglah saya.


Jumat, 10 Februari 2017

Tantangan#1 Hari Ke 10

Hari ini saya merasa gagal melakukan komunikasi produktif pada putri sulug. Sore tadi kakak pulang dari rumah neneknya dengan diantar oleh om-nya. Begitu turun dari motor kakak langsung lari masuk ke dalam rumah tanpa mengucapkan salam dan wajah ditekuk cemberut.

Saya tanya kakak kenapa dijawab dengan kesal, bunda tanya aja sama om.
Saya coba membujuk dengan pertanyaan lain, namun dijawab ketus. Saya yang saat itu baru pulang kerja dengan keadaan masih letih jadi terpancing emosi. Semua berakhir dengan pecahnya tangis kakak karena saya omelin.

Duh, seharusnya saya membantu kakak untuk mengalirkan rasa kesalnya. Membantunya untuk mengungkapkan apa yang terjadi pada dirinya, bukan malah menambah beban rasa di hatinya. Saya bertekad memperbaiki kesalahan ini pada esok hari.

Kamis, 09 Februari 2017

Tantangan#1 Hari ke 9

Sore tadi ayah pulang setelah dua hari dinas ke luar kota. Anak-anak bersorak gembira ketika ayah mengeluarkan satu kantong besar oleh-oleh untuk mereka. Bergantian kakak dan adik mengucapkan terima kasih diiringi pelukkan pada ayah. keduanya pun sibuk dengan oleh-oleh yang mereka terima.

Kakak mendapat jilbab coklat bergambar boneka lucu.
Adik mendapat jilbab warna krem berpita dibagian dada. Tapi begitu melihat gambar boneka di jilbab kakak, adik langsung minta jilbabnya di tukar dengan milik kakak. Adik tetap ngotot minta ditukar meskipun kakaknya telah menjelaskan bahwa jilbab coklat miliknya itu berukuran lebih besar dan akan kedodoran jika dipakai adik. 
Ketegangan diantara keduanya makin menjadi.

"Bundaaa..liat nih adik gak bersyukur udah dapet jilbab krem" ucap kakak dengan  nada kesal, alisnya bertaut dan bibir manyun, cemberut.
"Adik mau jilbab boneka juga bunda", rengek adik menimpali.
"Jilbab boneka itu ukurannya gak ada yang kecil sayang" sahut ayah menjelaskan.
Saya peluk tubuh bocah berusia tiga tahun itu, lalu sambil memegang pundaknya, dan wajah berhadapan dengan posisi kepala kami sejajar, saya berujar
"Adik, Alhamdulillah adik masih bisa mendapat jilbab baru dari ayah, banyak lho nak teman-teman adik yang gak bisa dapet jilbab baru dari ayahnya".
"Seperti anak-anak Allepo ya bunda?" tanyanya polos.
"iya sayang, saudara-saudara kita di Allepo banyak yang mungkin sudah lama tidak mendapatkan jilbab baru", ucap saya tersenyum menatap mata polos milik adik.
"Iya dik, kita harus bersyukur", ujar kakak 
"Iya ya kak, anak-anak Allepo udah gak punya rumah, gak punya makanan, gak punya ayah juga jadinya ga ada yang ngasih jilbab baru ya kak" sahut adik, sedih.
"iya dik makanya kita harus bersyukur masih punya rumah, punya ayah bunda, punya makanan banyak" jawab kakak dengan kepala mengagguk-angguk.
"Iya kak, maafin adik ya, gak apa-apa deh jilbab boneka buat kakak aja, adek juga suka jilbab krem ada pitanya", ujar adik tersenyum manis.

Saya peluk kedua buah hati saya itu dengan penuh rasa syukur pada Allah SWT.

Rabu, 08 Februari 2017

Tantangan#1 hari ke 8

Hari ini saya merasa tidak sukses menjalankan komunikasi produktif bersama keluarga. Suami masih di luar kota dan saya dirumah hanya bersama kedua buah hati saya kurang sehat. Anak-anak lebih banyak tiduran dan sedikit bicara karena lemas dan rasa tak nyaman di tenggorokannya. Keduanya terserang demam awal batuk pilek. 
Minum obat menjadi tantangan luar biasa pada kondisi ini. Keduanya menolak minum obat. 

Satu pelajaran yang saya ambil dengan kondisi hari ini adalah, ketika anak dalam kondisi sehat, saya harus melakukan komunikasi produktif pada mereka mengenai pentingnya minum obat bila sakit. Tentunya dengan harapan ketika mereka sakit, mereka minum obat tanpa merasa terpaksa.

Selasa, 07 Februari 2017

Tantangan#1 Hari ke 7

Pada bincang keluarga malam ini hanya saya dan anak-anak, suami sedang bertugas keluar kota. Topik pembicaraan kami adalah tentang gigi susu kakak yang sudah goyah. kakak takut kalau giginya copot dan menjadi ompong.

kakak gak mau giginya copot bun, rengeknya gusar.
kakak gak suka ya giginya copot? kenapa? tanya saya sambil mengusap kepalanya.
nanti kakak ompong, jadi gak bisa gigit makanan, ujarnya murung.
o..gitu.,ucap saya tersenyum.
gigi kakak ini namanya gigi susu, semua gigi susu akan copot dan tumbuh gigi baru yang lebih kuat sebagai penggantinya, saya coba menjelaskan.
emang langsung tumbuh bun, kejarnya penasaran.
ya ga langsung tumbuh juga kak, sahut saya.
sakit gak pas copot bun, tanyanya lagi.
sakit sedikit dan insya Allah hanya sebentar, ucap saya tersenyum meyakinkan.
kalau udah copot terusberapa hari gigi barunya tumbuh bun?, lanjut kaka belum puas.
ayo kita lihat di internet bun, adik juga mau liat gigi copot, timpal adik tetiba.

lalu kami pun beranjak menuju laptop.
ahh..anak-anak memang pembelajar sejati ya, dan semoga kita orang tua tak menjawab pertayaan-pertanyaan mereka dengan jawaban yang mematikan fitrah belajarnya. 
Bimbing kami ya Allah.

Senin, 06 Februari 2017

Tantangan#1 hari ke 6

Pada forum ngobrol keluarga malam ini topik pembicaraan kami adalah tentang makhluk hidup. Topik ini muncul karena siang tadi di sekolah kakak belajar tentang makhluk hidup.

"Bunda, tadi di sekolah kakak belajar tentang makhluk hidup, seru deh bun", ucap kakak membuka percakapan.
"wiihh..asik dong kak. Makhluk hidup apa yang kakak pelajari hari ini" tanya saya dengan senyum sambil  menghadapkan seluruh tubuh pada kakak. Adik dan ayah juga menatap kakak menunggu jawaban.
"Tadi kakak belajar tentang binatang-binatang yang di sebutkan dalam Al Qur'an" jawab kakak penuh semangat karena merasa semua orang merespon ucapannya.
"emangnya Al Quran nyeritain bintang juga kak?" tanya adik penasaran.
"iya dik, ada binatang-binatang yang namanya disebutkan dalam Al Quran, kakak juga baru tau tadi dikasih tau ustadzah" sahut kakak mantab.
"Binatang apa aja yang ada di Al Quran yang kakak tau?" tanya ayah memancing ingatan kakak.
"Semut, Lebah, Unta, Gajah, keledai, tuh banyak kan yah", jawab kakak terkekeh.
"ihh adik kemaren digigit semut waktu main di taman. semut itu giginya besar ya kak kok gigitnya sakit banget sampai adek nangis" timpal adik.
"yaah...kakak tadi belajarnya belum sampai tentang gigi semut dik. Emang semut ada giginya bun? kan badannya kecil, trus giginya ada dimana dong?" tanya kakak ikut penasaran.
"waah bunda juga belum pernah liat gigi semut tuh kak" jawab saya terbahak sambil bertukar pandang dengan ayah yang senyum-senyum.
"kita cari tau tentang gigi semut di internet yuk.., ucap ayah dengan senyum lebar.
"ayo..ayooo..ayoo yah" teriak anak-anak sambil berlari menuju meja komputer ayahnya.

Ahh, saya semakin yakin bahwa dalam diri setiap anak memang sudah terinstal fitrah belajar. Selanjtnya, tugas kami sebagai orang tua untuk menumbuhkan dan merawat fitrah itu, salah satunya melalui komunikasi yang produktif.

Minggu, 05 Februari 2017

Tantangan#1 Hari ke 5

Pada forum komunikas keluarga kami malam anank-anak heboh membahas tentang tantenya yang sedang dirawat di rumah sakit. Memang siang tadi anak-anak kami ajak membezuk tantenya.

Bunda, tante sakit apa kok sampai dirawat di rumah sakit? tanya kakak penasaran.
Tante kena sakit typus kak, jawab saya menatap matanya.
Tadi itu tangan tante ditusuk jarum yang ada selangnya bunda trus ada botol digantung itu apa?, emangnya gak sakit bun ditusuk begitu? tanya adik beruntun.
botol itu namanya infus dik obat untuk tante, ya sakit sih ditusuk jarum infus tapi itu berguna untuk memasukkan obat yang dibotol ke badan tante, ucap saya diiringi senyum.
Tante sakit karena malas makan ya bun, tanya adik lagi.
iya dik, makanya kita harus makan kalau udah waktunya makan ya bun, timpal kakak.
iya sayang, waktunya makan kita harus makan, dan waktunya tidur ya kita harus tidur, itu namanya disiplin, jawab saya.
nah, sekarang udah waktunya tidur nih, ayo kita tidur, ujar ayah diiringi tawa.

Lalu kami beranjak menuju kamar, untuk beristirahat.

Sabtu, 04 Februari 2017

Tantangan#1 Hari ke 4

Ada yang tak biasa pada forum komunikasi keluarga kai malam ini. Jika biasanya kami ngobrol saling bertatap muka langsung, tapi kali ini melalui video call yang speakernya kami aktifkan karena ayah sedang mendapat tugas keluar kota dari kantornya.

Kakak, bantu bunda jagain adik ya, kata ayah diujung telepon.
iya yah, sahut kakak mantab.
Kakak gantiin tugas ayah periksa semua pintu dan kunci ya nak, lanjut ayah.
iya yah ini langsung kakak periksa pintunya, ujar kakak sambil berjalan menuju pintu depan dan belakang,
Ayah...adik ngapain tugasnya yah..? adikpun bergegas tak mau ketinggalan.
Adik bantuin kakak ya, jawab ayah terkekeh.
Iya yah, sahut adik dan langsung berjalan membuntuti kakaknya memeriksa pintu.
Udah dikunci semua yah, lapor kakak.
Kalau sudah, sekarang waktunya kakak dan adik tidur, jangan lupa berdo'a ya sayang, ucap ayah tersenyum di ujung telpon.
Iya yah, sahut adik dan kakak kompak.

Saya iringi anak-anak kekamarnya untuk memulai aktifitas pengantar tidur mereka, yaitu membacakan kisah dari buku yang mereka pilih, dan dilanjutkan doa bersama sebelum tidur.

Jumat, 03 Februari 2017

Tantangan#1 hari ke 3

Malam ini saya merasa gagal melakukan komunikasi produktif pada zhafira putri bungsu saya. Usai santap malam, ayahnya pamit berangkat ke steam mobil untuk mencuci mobil kami. Jadilah saya dan anak-anak bertiga saja di rumah.

Annisa putri sulung saya tengah membaca buku. Sementara Zhafira asyik dengan krayon dan kertas gambarnya, dan saya sendiri sedang di dapur mencuci piring, ketika tetiba saya mendengar keributan dari kedua putri saya ini. Bergegas saya hampiri mereka, dan terkejut melihat zhafira sedang menginjak-injak buku pelajaran kakaknya.

Lho adik, kakak, ada apa ini. Adik stop jangan diinjak buku kakaknya nak, ucap saya.

Biarin aja..biarin rusak, teriak adik semakin manjadi. Kakinya menggilas buku itu berulang kali hingga robek tidak karuan.

Kesalahan fatal saya pun terjadi. Tangan saya mengayun memukul kaki bocah yang belum genap 4 tahun itu. Zhafira terperanjat, menatap saya tak percaya pada apa yang baru saja saya lakukan padanya. Ini adalah kali pertama saya memukulnya. Seketika kakinya berhenti menginjak, dengan kepala tertunduk dan wajah murung ia melangkah pelan menuju kamarnya dan meringkuk di kasur sambil menangis. Saya tersadar. saya bergegas menghampiri zhafira dan memeluk tubuh mungil yang sedang pilu itu. permintaan maafpun berhamburan dari mulut saya.
Saya sediiih. pipi saya pun basah.
ahh, betapa saya harus banyak belajar...berlatih....belajar...berlatih..belajar dan berlatih mengendalikan diri ketika emosi menyerang jiwa.

Kamis, 02 Februari 2017

Tantangan#1 Hari ke 2

Pagi ini kak Annisa akan melakukan kegiatan belajar di kebun binatang ragunan yang di koordinir oleh pihak sekolahnya. Sejak kemarin ia sudah sibuk mempersiapkan segala sesuatu yang harus dibawa untuk kegiatan ini. 

Tadi malam, usai kami menyantap hidangan, ayah membuka percakapan.
Besok pagi kakak akan belajar di Ragunan bersama teman-teman dari sekolah. Sudah di periksa semua barang bawaannya kak?, Tanya ayah.
Sudah yah, jawab kakak mantab.
Ayah mengacungkan jempolnya untuk kakak.
Lalu ayah beralih menatap adik, insya Allah hari ahad nanti ayah akan ajak adik ke Ragunan juga, ucap beliau.
Gak mau ahad..adik mau besok sama kakak, teriak adik sambil menangis, menyadari kalau besok pagi ia tak akan diizinkan ikut bersama kakaknya.
Saya menghampiri adik, saya peluk dan usap punggungnya. Setelah tangisnya mereda saya berlutut di depan adik hingga kepala kami sejajar.
Adik, besok kakak berangkat sekolah seperti biasa cuma belajarnya di Ragunan, ucap saya sambil tersenyum.
O..besok kakak bukan jalan-jalan bun?, tanyanya polos.
Bukan diiik...besok itu kakak berangkat sama teman-teman dan ustadzah dari sekolah , timpal kakak.
Bukan nak...besok kakak sekolah, tapi kelasnya numpang di Ragunan, jawab saya diiringi tawa.
Nah...insya Allah ahad nanti ayah akan ajak adik,kakak juga bunda jalan-jalan ke Ragunan juga, gimana..adik mau?, Tanya ayah sambil memeluk adik.
Adik mau..adik mau, teriak bocah 3 tahun itu bertepuk tangan.
Saya dan ayah saling berpandangan dan melempar sanyum lega.

Alhamdulillah, pagi ini kakak berangkat tanpa dilepas tangisan adiknya 


Rabu, 01 Februari 2017

Tantangan#1 Hari ke 1

Malam ini saya sedikit berdebar-debar saat mengajak anak-anak untuk tidur. Akankah kehebohan sebelum tidur akan terjadi lagi seperti sebelumnya? Kehebohan yang disebabkan oleh perbedaan kenyamanan pengantar tidur antara kakak dan adik. Kakak lebih cepat terlelap jika menyalakan kipas angin saat mulai berbaring di kasur, sedangkan adik justru tak bisa terpejam jika kipas angin menyala.

Saya ajak keduanya masuk kamar lalu saya buka percakapan dengan sebuah pertanyaan.
Siapa ya diantara anak bunda yang merasa udah ngantuk banget? ucap saya diiringi senyuman terbaik yang saya punya.
adik bun, sahut adik dengan suara pelan bergelayut rasa kantuk.
waah iya mata adik juga udah merah banget, yuk adik rebahan sayang, ujar saya.

Lalu saya menoleh pada kakaknya.Saya peluk dan usap punggungnya, kakak mau baca buku satu halaman lagi atau mau mewarnai satu gambar dulu sementara bunda ngelonin adik?
Kakak baca buku aja bun, ujarnya sambil beranjak ke meja belajarnya.
kalau begitu kipasnya kita nyalain kalau kakak udah mau tidur aja ya nak, ucap saya sambil mengelus kepalanya.
iya bunda, angguknya juga dengan tersenyum.
Terima kasih sayang balas saya sambil mencium pipinya.

Alhamdulillah, akhirnya malam ini saya menemukan cara untuk menghentikan keributan yang kerap terjadi antara anak-anak saya sebelum mereka tidur.


#hari1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip