Sabtu, 11 November 2017

Minyak Jelantah

Saya merupakan salah satu dari sekian banyak emak-emak yang dapurnya produktif menghasilkan minyak jelantah. Saya tidak pernah membuang begitu saja minyak bekas menggoreng ini. Di dapur, saya menyiapkan satu buah jerigen khusus untuk menampung minyak jelantah.

Selama ini minyak jelantah saya manfaatkan sebagai bahan bakar pengganti lilin. Teknisnya adalah dengan mengisi sebuah gelas kecil dengan air hingga setengah bagian gelas, lalu setengah bagian lagi saya isi dengan minyak jelantah. Air dan minyak akan memisahkan diri, dengan minyak berada diatas. Lalu ditengan gelas saya letakkan sebuah sumbu yang saya ambil dari lilin. Setiap kali rumah kami terkena pemadaman listrik bergilir, maka lilin minyak jelantah ini selalu saya gunakan.

Selama ini, baru sebatas itulah saya memanfaatkan minyak jelantah. Hingga tadi sore saya menemukan cara lain untuk memanfaatkannya.
Bermula dari pagar rumah yang mendadak  sulit dibuka. Tak seperti biasanya, tadi sore ketika saya mendorong pagar agar terbuka lebar, serasa ada yang menahan roda pagar agar tak berputar lancar. Setelah saya amati lebih seksama ternyata memang roda inilah penyebabnya. Roda tak bisa bergulir lancar karena gesekan antara roda dengan porosnya terhalang sedikit karat. Butuh minyak pelumas, pikir saya. Minyak jelantahlah yang kemudian muncul dalam kepala saya sebagai pelumas.
Benar saja, ketika roda pagar saya siram dengan beberapa sendok minyak jelantah, roda bisa bergulir lancar kembali sebagaimana biasanya. Aha..inilah minyak pelumas ala emak-emak macam saya.


#harikeempat
#tantangan10hari 
#level9
#kuliahbunsayiip 
#thinkcreative

Tidak ada komentar:

Posting Komentar